Bank Indonesia (BI) mengungkapkan, hingga saat ini total utang luar negeri - pemerintah, BI dan swasta - telah mencapai US$ 250 miliar.
Dari total utang tersebut, didominasi oleh utang luar negeri swasta yang jumlahnya mencapai US$ 133 miliar. "Sedikit lebih tinggi dari utang pemerintah dan BI," ujar Gubernur BI, Agus Martowardojo di kantornya, Jumat (23/8)
Kata Agus, dari total utang luar negeri swasta terdapat 20-22 persen di antaranya yang bersifat mengambang. Tidak ada mekanisme skema lindung nilai (hedging). Sehingga, harus dibayar dengan kurs saat jatuh tempo.
Selain itu, lanjutnya, keuntungan yang didapat beberapa perusahaan tersebut dalam bentuk rupiah. Sementara saat meminjam dalam bentuk dolar.
"Beberapa perusahan lain kondisinya lebih baik, karena pinjamannya berasal dari perusahaan induk sehingga tidak langsung terdampak," ungkap Agus.
Untuk itu, Bank Indonesia meminta kepada dunia usaha dan perbankan untuk lebih berhati-hati dalam mengelola utang luar negeri. Sebab utang tersebut dibayarkan menggunakan dolar yang nilainya fluktuatif terhadap rupiah.
"Kami harus berhati-hati terhadap aspek likuidtas, market risk, credit risk, currency risk dan risiko mismatch tenor," tandas Agus.
Dari total utang tersebut, didominasi oleh utang luar negeri swasta yang jumlahnya mencapai US$ 133 miliar. "Sedikit lebih tinggi dari utang pemerintah dan BI," ujar Gubernur BI, Agus Martowardojo di kantornya, Jumat (23/8)
Kata Agus, dari total utang luar negeri swasta terdapat 20-22 persen di antaranya yang bersifat mengambang. Tidak ada mekanisme skema lindung nilai (hedging). Sehingga, harus dibayar dengan kurs saat jatuh tempo.
Selain itu, lanjutnya, keuntungan yang didapat beberapa perusahaan tersebut dalam bentuk rupiah. Sementara saat meminjam dalam bentuk dolar.
"Beberapa perusahan lain kondisinya lebih baik, karena pinjamannya berasal dari perusahaan induk sehingga tidak langsung terdampak," ungkap Agus.
Untuk itu, Bank Indonesia meminta kepada dunia usaha dan perbankan untuk lebih berhati-hati dalam mengelola utang luar negeri. Sebab utang tersebut dibayarkan menggunakan dolar yang nilainya fluktuatif terhadap rupiah.
"Kami harus berhati-hati terhadap aspek likuidtas, market risk, credit risk, currency risk dan risiko mismatch tenor," tandas Agus.
No comments:
Post a Comment